Apa itu Ethereum dan Bedanya dengan Bitcoin

Serupa dengan Bitcoin, Ethereum (ETH) menggunakan teknologi blockchain. Blockchain adalah sistem basis data terdistribusi (biasanya menggunakan jaringan peer-to-peer) yang digunakan untuk menyimpan dan mengatur record-record (disebut block) yang terus menerus bertambah.

Bedanya, platform Ethereum bersifat Turing-complete. Berbagai fungsionalitas baru dapat dikembangkan dengan relatif mudah. Hal ini membuat blockchain Ethereum sering juga disebut programmable blockchain. Sementara Bitcoin hanya memiliki satu fungsi yang bertujuan untuk memfasilitasi transaksi peer-to-peer sebagai mata uang digital. 

Penggunaan blockchain oleh United Nations World Food Programme berhasil menyediakan pangan bagi 10.000 pengungsi Suriah.

 

Smart Contract

Smart Contract (SC) adalah salah satu fitur utama Ethereum. SC merupakan kontrak self-executing yang ditulis dalam kode (contohnya pada gambar di bawah). Kesepakatan yang ada dalam kontrak akan dilaksanakan secara otomatis.

Contoh sederhananya, Andi bertaruh Rp. 3.000.000 pada Budi bahwa pada akhir Juni, Ether akan bernilai $440 atau lebih. Pada awal Juli, ternyata nilainya masih berada dibawah $440. Bisa jadi Andi berkata bahwa ia tidak memiliki uang yang ia janjikan. Budi kemudian menuntut Andi di pengadilan soal uangnya itu. Menggunakan Smart Contract, ini tidak akan terjadi.

Smart Contract adalah fitur yang terintegrasi penuh pada Ethereum. Hal ini memungkinkan pembayaran secara instan pada jaringan terdesentralisasi, tanpa penengah, tanpa downtime (meskipun pada kenyataannya tidak selalu demikian). 

 

Ethereum Virtual Machine (EVM)

EVM memungkinkan developer untuk mengembangkan dan meluncurkan berbagai aplikasi pada jaringan Ethereum. EVM beroperasi pada jaringan terdesentralisasi yang aman dan transparan. Semua node pada jaringan akan memuat informasi yang sama dan aman secara kriptografis. Berbeda dengan jaringan berbasis server pada topologi tertentu. Serangan pada server (atau central node) akan berpengaruh pada seluruh jaringan. Ethereum menghilangkan titik rentan tersebut, sehingga ada sumber yang menganggap teknologi Ehereum sebagai Web 3.0.

 

GPU Mining

Proses komputasi blockchain yang rumit dan biaya listrik yang mahal membuat penambangan (mining) sulit dilakukan pengguna biasa. Kebanyakan penambangan saat ini dilakukan oleh beberapa perusahaan yang berbasis di Cina.

Untuk spesifikasi komputer penambang, biasanya menggunakan CPU dan motherboard standar, dan 5-10 kartu grafis (GPU). Karena perkembangan teknologi GPU saat ini, GPU mining rumahan kembali dilirik. Untuk GPU buatan NVIDIA, GTX 1060 dan GTX 1070 adalah yang paling laris digunakan untuk hal ini. Di Jerman, harga kartu grafis melambung tinggi karena banyaknya permintaan. Beberapa produsen kartu grafis mengeluarkan produk yang dikhususkan untuk penambangan, misalnya Biostar Radeon RX 470D.

 

Cryptocurrency di Indonesia

Bank Indonesia (BI) masih belum mengakui bitcoin, ether, maupun cryptocurrency lainnya sebagai alat pembayaran yang sah, meskipun komunitas trader cryptocurrency sudah berkembang pesat. Alasannya, rupiah adalah satu-satunya mata uang sah di Indonesia dan nilai cryptocurrency sulit ditebak dan sangat fluktuatif. Meskipun demikian, orang dapat dengan bebas membeli ether menggunakan rupiah (misal saat harganya sedang turun), lalu menjualnya kembali saat harganya naik.

UPDATE: Pemerintah menetapkan peraturan untuk melaporkan hasil penjualan cryptocurrency di SPT pajak tahunan.

Lihat juga: bitcoin.com - Bitcoin Growing Fast In Unbanked Indonesia